Slogan itu kini telah muncul pada papan-papan karton sebagai bentuk protes terhadap stereotip rasial, sekaligus simbol betapa pihak berwenang tidak memahami realitas kehidupan kaum muda. Slogan ini bahkan telah menyebar hingga ke Italia dan Belgia, tempat aksi protes serupa, terkait tingginya biaya hidup dan buruknya kualitas pendidikan, juga berlangsung selama akhir pekan.

El Chazli menuturkan meme satir dan tren internet telah menjadi sarana untuk menyuarakan keluhan politik dalam aksi protes, yang secara tradisional memang selalu bersifat 'inventif dan kreatif'. Diskusi seputar Islamofobia juga menjadi sorotan utama dalam perdebatan publik.

Pihak berwenang Prancis cenderung enggan berkomentar secara terbuka mengenai lonjakan signifikan tindakan Islamofobia di negara tersebut. Sebuah laporan yang dikutip oleh kantor berita Reuters tahun lalu menunjukkan peningkatan sebesar 72% dalam insiden semacam itu selama kuartal Januari-Maret 2025 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024.

Kelompok sayap kanan Prancis dengan cepat menggunakan bahasa rasis untuk menyalahkan pemuda Muslim atas kekerasan yang terjadi. Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut berkomentar dengan mengklaim bahwa hal ini berkaitan dengan 'keinginan Islam untuk mengambil alih'.

"Apa yang 20 tahun lalu dianggap sebagai isu yang tidak relevan, kini menjadi pokok perdebatan," ujar El Chazli. Bagi generasi yang lebih muda, pengaruh Arab dan Afrika kian menjadi arus utama dalam subkultur kaum muda, berkat peran tokoh-tokoh di bidang olahraga dan seni, serta kehadiran berbagai acara radio maupun konten media sosial yang baru.