NADIKABAR.COM — Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan perjanjian investasi bilateral atau Bilateral Investment Treaty (BIT) antara Indonesia dan Timor-Leste menjadi landasan untuk memperluas kerja sama ekonomi kedua negara.
Perjanjian tersebut ditandatangani Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani bersama Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Timor-Leste Francisco Kalbuadi Lay di Jakarta, Kamis.
Rosan dalam pernyataan resminya mengatakan perjanjian tersebut membuka peluang bagi Indonesia dan Timor-Leste untuk memperkuat kolaborasi ekonomi melalui penyempurnaan kebijakan, regulasi, serta percepatan kerja sama investasi.
"Kami meyakini banyak sekali potensi-potensi kerjasama yang bisa kita elaborasi yang bisa kita kerjakan bersama dan ini akan menjadi landasan untuk kita bisa terus secara kontinu bertemu, mendiskusikan, dan juga menyempurnakan baik dari segi policy, regulasi, percepatan atau pun akselerasi," ucap Menteri Rosan.
Penandatanganan BIT merealisasikan komitmen kedua negara yang diinisiasi melalui pertemuan bilateral pada 2023. Prosesnya dilanjutkan dengan serangkaian perundingan sejak November 2024 hingga penyelesaian legal scrubbing pada Agustus 2025.
Menurut Rosan, hubungan investasi kedua negara selama ini menunjukkan tren positif. Sekitar 120 perusahaan swasta Indonesia telah berinvestasi di Timor-Leste, disertai kehadiran sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) dan perusahaan besar nasional.
Perusahaan tersebut antara lain Bank BRI, Bank Mandiri, Pegadaian, Telkomsel, Pertamina International Timor, Waskita Karya, PT PP, dan Adhi Karya yang terlibat dalam berbagai kegiatan usaha dan proyek strategis di negara tersebut.
Hubungan ekonomi kedua negara juga didukung aktivitas perdagangan. Indonesia memasok sejumlah komoditas ke Timor-Leste, antara lain kendaraan dan bagiannya, produk olahan tepung, serta lemak dan minyak hewani, dengan nilai perdagangan yang disebutkan mencapai 150 juta dolar AS.
Sementara itu, Timor-Leste memasok komoditas seperti kopi, teh, rempah-rempah, serta mesin dan peralatan mekanik ke Indonesia.
Ke depan, implementasi BIT diharapkan memperluas peluang kerja sama di sektor industri hilir dan manufaktur, infrastruktur, energi terbarukan, logistik, real estat, hingga teknologi digital. Kedua negara juga mendorong pertukaran informasi investasi, pengembangan peluang bisnis, dan peningkatan keterlibatan sektor swasta.
Wakil Perdana Menteri Timor-Leste Francisco Kalbuadi Lay menyambut baik penandatanganan perjanjian tersebut sebagai penguatan hubungan bilateral kedua negara yang memiliki sejarah panjang.
Ia menilai kesepakatan tersebut membuka peluang yang lebih luas bagi pemerintah dan masyarakat kedua negara untuk memperoleh manfaat dari kerja sama ekonomi.
BIT Indonesia-Timor-Leste mencakup tiga komponen utama, yakni promosi investasi untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif dan berkelanjutan, fasilitasi investasi melalui transparansi dan efisiensi, serta pelindungan investasi melalui perlakuan yang adil dan setara serta kepastian hukum.