Selain itu, perusahaan berhasil menekan rasio beban operasional konsolidasian terhadap total nilai transaksi (Total Processing Value/TPV) dari 7,2 persen menjadi 6,4 persen. Perbaikan tersebut turut meningkatkan rasio EBITDA konsolidasian terhadap TPV sebesar 160 basis poin secara tahunan.
CFO Blibli Ronald Winardi mengatakan pertumbuhan pendapatan dan perbaikan efisiensi tersebut mencerminkan manfaat dari peningkatan bauran pendapatan serta pengelolaan biaya yang disiplin.
"Kinerja keuangan kami pada sembilan bulan pertama tahun 2026 mencerminkan manfaat dari perbaikan bauran pendapatan serta pengelolaan biaya yang disiplin. Pendapatan kami tumbuh 46% yoy didukung oleh pertumbuhan di seluruh segmen usaha," tutur Ronald.
Dari sisi segmen usaha, bisnis ritel pihak pertama (1P) mencatatkan pertumbuhan laba bruto sebelum diskon sebesar 46 persen secara tahunan menjadi Rp1,53 triliun pada sembilan bulan pertama 2026.
Kinerja tersebut didukung oleh fokus perusahaan pada produk dengan margin yang lebih tinggi, antara lain elektronik konsumen, elektronik rumah tangga, barang konsumsi, serta produk olahraga dan gaya hidup.
Pada periode yang sama, TPV segmen tersebut tumbuh 36 persen dan pendapatan neto meningkat 29 persen secara tahunan.
Sementara itu, segmen ritel pihak ketiga (3P) membukukan GPBD sebesar Rp2,19 triliun atau tumbuh lima persen secara tahunan. Pendapatan neto segmen ini meningkat sembilan persen, didukung kontribusi usaha agen perjalanan daring (online travel agent/OTA), optimalisasi harga, dan perluasan monetisasi pendapatan tambahan.