NADIKABAR.COM — Jakarta bergerak nyaris tanpa jeda. Bunyi langkah para pekerja di pagi hari, aktivitas perdagangan, hingga malam yang berganti dengan hiruk-pikuk kuliner dan hiburan mengisi denyut Ibu Kota.
Namun, padatnya gedung dan aktivitas manusia belum tentu menandakan sebuah kawasan benar-benar hidup. Dari bisingnya tepi jalan raya hingga ruang-ruang yang sunyi di sekitar simpul transportasi, sebagian sudut Jakarta masih menyimpan potensi yang belum sepenuhnya tergali.
Di baliknya, ada peluang untuk menciptakan tempat yang bukan hanya dilalui, tetapi juga mengundang orang untuk berhenti, berkumpul, dan beraktivitas. Caranya bukan sekadar membangun ruang baru, tetapi menemukan dan menguatkan soul atau jiwa yang telah melekat pada kawasan, lalu memberinya ruang untuk tumbuh.
Pendekatan inilah yang dikenal sebagai placemaking. Sederhananya, ruang tidak hanya dibangun untuk digunakan, tetapi dihidupkan melalui aktivitas, komunitas, dan identitas yang membuat orang memiliki keterikatan dengan tempat tersebut.
"Sebetulnya ini menggambarkan bagaimana sebuah kawasan itu bisa dihidupkan kembali. Tidak hanya secara bisnis, secara aktivitas, tapi juga secara mendukung kegiatan masyarakat perkotaannya," kata Kepala Divisi Business Planning & Expansion Division MRT Jakarta, R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo dalam acara MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta, ditulis Rabu (16/9/2026).
Bagi MRT Jakarta, upaya menghidupkan sebuah kawasan tidak berhenti pada pembangunan stasiun. Ruang-ruang di sekitarnya juga menjadi bagian dari perjalanan, sekaligus peluang untuk menciptakan aktivitas dan membentuk karakter sebuah tempat.
Karena itu, pendekatan placemaking mulai dibawa ke sejumlah kawasan di sekitar stasiun MRT. Pada titik inilah stasiun tak lagi berdiri sendiri. Ia menjadi pintu masuk menuju kawasan yang punya kehidupan dan identitasnya masing-masing.
Blok M menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan tersebut diterapkan. Kawasan ini terus berkembang, tidak hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai pusat kuliner dan lifestyle. Identitasnya dibangun sebagai urban youth hub bagi anak muda, sekaligus membawa unsur nostalgia bagi generasi terdahulu.
Beragam komunitas dan kegiatan yang tumbuh di dalamnya turut membentuk karakter Blok M. Dari sinilah muncul gambaran tentang 'Negara Blok M', sebuah kawasan yang tak lagi sekadar menjadi titik perpindahan penumpang, tetapi punya alasan untuk didatangi dan dinikmati.