Ardhasena memaparkan, intensitas El Nino tahun ini tergolong kuat. Data anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik hingga akhir Agustus mencapai angka 2,83, dengan rata-rata triwulanan (Juli-Agustus-September) di angka 2,63.

Secara historis, lanjut dia, El Nino selalu memperpanjang dan memperparah musim kemarau di Indonesia, khususnya wilayah-wilayah yang berada di selatan garis khatulistiwa. Fenomena ini diprediksi masih akan bertahan hingga awal tahun depan.

"Untuk yang sekarang ini bertahan paling tidak hingga akhir kuartal pertama tahun 2027, ya. Tetapi dampaknya pada kekeringan di Indonesia akan selesai dengan masuknya kita ke musim hujan," jelasnya.