Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut pada 17-24 Oktober 2026 karena potensi pertumbuhan awan hujan masih rendah. Situasi ini perlu diwaspadai karena dapat mendukung keberlanjutan karhutla di wilayah yang rawan.
Sebaliknya, peluang pertumbuhan awan hujan lebih dari 70 persen masih terdapat di sejumlah wilayah, terutama Sumatera bagian utara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua. Kondisi tersebut mendukung kemungkinan terjadinya hujan ringan hingga sedang. BMKG juga mengingatkan potensi hujan lebat di sebagian wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Papua Pegunungan.
"Sementara pola angin pada lapisan atmosfer 925-500 hpa secara umum didominasi angin dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 5-34 knot. Pola tersebut memengaruhi arah pergerakan dan penyebaran asap karhutla sekaligus berperan dalam proses pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah Indonesia," ujarnya.
Sebelumnya, BMKG melaporkan sebaran asap karhutla telah mencapai wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Keberadaan asap tersebut diketahui berdasarkan pemantauan citra satelit dan analisis kondisi meteorologi.
"BMKG memantau sebaran asap menggunakan citra satelit dan analisis meteorologi. Berdasarkan pantauan terbaru, terdapat indikasi sebaran asap karhutla yang telah mencapai wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat pada lapisan atmosfer," kata Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto saat dimintai konfirmasi, Jumat (16/10).
Guswanto menjelaskan pergerakan angin menjadi salah satu faktor yang menyebabkan asap karhutla terbawa hingga ke tiga provinsi tersebut.
"Kondisi ini terjadi karena transpor asap yang dipengaruhi arah serta kecepatan angin di berbagai lapisan udara," ujarnya.