NADIKABAR.COM โ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah IV Makassar menyebutkan dampak kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) turut memengaruhui kualitas udara di wilayah Sulawesi Selatan.
"Untuk masalah kualitas udara, kita amati dari beberapa hari terakhir di Staklim (Stasiun Klimatologi BMKG) di Maros terpantau dari batas sedang, hingga tidak sehat," ujar Prakirawan BMKG IV Makassar Asriani Idrus di kantornya, Jalan Prof Basalamah, Makassar, Sabtu.
Dari analisis pantauan peta angin, sebaran asap Karhutla terlihat dari arah angin dominan angin timur. Namun dari data arah angin melalui pengamatan di AWS (Automatic Weather Station) BMKG wilayah Paotere, arah angin ternyata juga didominasi dari angin barat.
Menurutnya, arah angin yang membawa asap dalam beberapa hari terakhir dari barat daya hingga barat laut. Kendati demikian, arah angin sering kali berubah-ubah, kadang dari arah timuran dan barat.
Perubahan udara kotor yang dibawa angin, kata dia, biasanya pada dini hari hingga menjelang siang dari angin barat. Namun, kondisi udara saat memasuki siang hari hingga sore hari biasanya kembali normal dibawa angin timur.
"Kadang dia timuran, kalau timuran mungkin kembali bersih lagi. Tapi, ini agak turun indikatornya PM 2.5 (partikel udara 2,5 mikrometer). Kalau misalnya anginnya berubah haluannya dari barat, kemungkinan partikel asapnya ini akan masuk ke wilayah Sulsel," tutur dia.
Asriani menuturkan, faktor penyebab utama kualitas udara salah satunya asap. Asap kiriman dari Kalimantan bagian selatan dan wilayah Papua dan Maluku apat berpotensi masuk ke wilayah Sulawesi dibawa angin.
"Jadi ada dua faktor. Kalau misalnya angin timuran bisa saja asap karhutla dari Papua, Maluku. Sedangkan, kalau tiba-tiba anginnya berubah haluan menjadi dari barat, kemungkinan yang dari (asap karhutla) Kalimantan masuk, karena lebih dekat," paparnya menjelaskan.Asrani menjelaskan, prakiraan cuaca dan angin terus dipantau dari 24 jam hingga 72 jam ke depan. Namun kondisi dapat berubah-ubah seiring dengan arah angin yang membawa asap tersebut di titik merah pemantauan wilayah Sulawesi dan sekitarnya.
"Kami masih dipantau terus dan memang mungkin beberapa hari ke depan masih sama (kualitas udara tidak sehat), karena kalau dilihat ini masih merah-merah sekali, masih kuat sekali," tuturnya sembari menunjukkan di peta pemantauan asap karhutla.
Selain perubahan cuaca, faktor lain adanya suhu panas. Dari pantauan cuaca panas masih terjadi di wilayah Kota Makassar dan sekitarnya. Selama musim kemarau, cuaca terlihat normal dengan suhu udara di Sulsel berkisar 30-35 derajat celcius.
Kini BMKG menggunakan indikator baru untuk menentukan suhu panas, yakni indikator suhu udara. Metode ini, kata dia, berbeda dengan suhu biasa yang penggunaan pengukurannya melalui termometer. Pengukuran ini menggunakan kombinasi perhitungan pada beberapa parameter cuaca.
"Yaitu, arah angin, suhu udara, kelembaban udara, sama radiasi. Jadi, suhu udara yang terasa panas ini, itu adalah kondisi tubuh kita yang dipengaruhi oleh tekanan akibat panas di lingkungan," ucapnya menjelaskan.
Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker dan pakaian yang tidak menyerap panas saat keluar rumah agar terhindar dari risiko gangguan kesehatan atas kondisi cuaca yang kini masih berlangsung.
Sebelumnya, data Indeks Kualitas Udara (AQI) dari pantauan di lamannya qi.in/id sekitar pukul 10.25 WITA, kondisi udara di wilayah Makassar dan sekitarnya berada pada level sedang. Skor kualitas udaranya pada level PM 2.5 atau tingkat partikel kotoran di udara 71 ยตg/mยณ (mikrogram per meter kubik), dikategorikan tidak sehat.