Dia menjelaskan pemantauan melalui citra satelit Himawari juga menunjukkan tidak ada aktivitas pengumpulan awan di Bandung Raya pada waktu dentuman dilaporkan. Namun pada waktu yang sama justru terpantau aktivitas vulkanik di sekitar Gunung Anak Krakatau.
"Jadi, aktivitas sky earthquake ini, skyquake, ya, maksudnya dentuman langit. Kita curigai adanya fenomena yang tidak lazim, ya. Artinya rekaman darat itu kita curigai sebagai aktivitas Krakatau, ya, baik dari data informasi satelit, citrawan, dan aktivitas magnetik, juga dari data petir, ya," katanya.
"Nah, ini ternyata pas kejadian aktivitas tersebut itu memiliki aktivitas konsentrasi thunderstorm atau petir yang sangat dominan di wilayah Krakatau. Menariknya adalah di Kota Bandung, Bandung sekitarnya, itu sedikit sekali petir," sambungnya.
Namun, dia mengatakan saat aktivitas di Gunung Anak Krakatau, tak ada laporan di Banten dan Jakarta terkait dentuman langit. Sebaliknya, aktivitas petir di Bandung Raya dan sekitarnya terpantau relatif sedikit.
"Jadi fenomena aktivitas vulkanik di Krakatau itu warga warga Banten dan sekitarnya dan Jakarta tidak melaporkan adanya dentuman atau skyquake ini, dentuman langit ya," jelasnya.