NADIKABAR.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut minimnya potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan ekuator menjadi tantangan teknis dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki mengatakan keberhasilan penyemaian awan sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan potensial di wilayah yang menjadi sasaran operasi.

"Apabila ada potensi-potensi pertumbuhan awan, saat diintervensi, terjadi curah hujan. Namun, secara umum wilayah bagian selatan ekuator itu masih minim potensi pertumbuhan awannya," ujar Marjuki dalam konferensi pers Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Kemenko Polkam, Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan kondisi tersebut menyebabkan probabilitas menghasilkan hujan melalui intervensi OMC di kawasan tersebut menjadi sangat kecil. Sebaliknya, wilayah dengan indikator pertumbuhan awan yang tinggi lebih memungkinkan menghasilkan curah hujan setelah dilakukan intervensi.