NADIKABAR.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Tengah (Jateng) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan lebat yang diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah provinsi itu pada awal November 2026.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi (Staklim) Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Selasa, mengatakan potensi hujan lebat tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan kota dengan periode kejadian berbeda selama dasarian pertama November 2026.

Ia mengatakan berdasarkan Informasi Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Dasarian I November 2026 yang dikeluarkan Staklim Jateng, potensi hujan lebat pada 1-3 November mencakup Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Magelang, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Semarang, Temanggung, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes, serta Kota Magelang, Surakarta, Salatiga, dan Semarang.

Selanjutnya pada periode 4-6 November, potensi hujan lebat mencakup Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Magelang, Boyolali, Klaten, Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Jepara, Demak, Semarang, Temanggung, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes, serta Kota Magelang dan Surakarta.

Sementara pada 7-10 November, potensi hujan lebat diprakirakan terjadi di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Grobogan, Blora, Rembang, Sragen, Pati, Kudus, Jepara, dan Demak.

“BMKG juga menetapkan peringatan dini curah hujan tinggi kategori Waspada pada dasarian I November dengan prakiraan curah hujan 150-200 milimeter per dasarian di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, dan Magelang,” katanya.

Ia mengatakan peringatan serupa juga berlaku di Kabupaten Boyolali, Karanganyar, Grobogan, Semarang, Temanggung, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Kota Magelang, dan Kota Salatiga.

Menurut dia, tidak ada wilayah di Jateng yang terindikasi masuk kategori Siaga dengan prakiraan curah hujan 200-300 milimeter per dasarian maupun kategori Awas dengan curah di atas 300 milimeter per dasarian.

“Peringatan dini kekeringan meteorologis juga nihil untuk seluruh wilayah Jawa Tengah meskipun berdasarkan pemantauan hingga dasarian III Oktober 2026, sebanyak 54 zona musim atau 100 persen zona musim di Jateng secara keseluruhan masih berada dalam periode musim kemarau,” katanya.

Sementara dari sisi dinamika iklim global dan regional, kata dia, BMKG mencatat indeks Indian Ocean Dipole (IOD) bulanan pada dasarian II Oktober 2026 sebesar 0,765 atau berada pada fase positif dan kondisi tersebut diprediksi bertahan hingga akhir 2026.

Selain itu, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar 3,05 yang menunjukkan kondisi El Nino sangat kuat, sehingga fenomena tersebut diprakirakan masih bertahan hingga awal 2027.

Ia mengatakan kondisi dinamika iklim global dan regional tersebut menjadi salah satu parameter yang perlu dicermati dalam memantau perkembangan cuaca dan iklim di Jawa Tengah.

Ia mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta melakukan langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak ikutan cuaca ekstrem, terutama banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.

“Masyarakat juga diminta memantau perkembangan informasi cuaca hingga tingkat kecamatan melalui aplikasi Info BMKG maupun laman resmi BMKG,” kata Goeroeh.