NADIKABAR.COM — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) Kristomei Sianturi mengatakan Indonesia tengah menginventarisasi kebutuhan dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dapat dibantu oleh negara lain.
Ditemui usai Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu malam, Kepala BNPB Kristomei mengatakan sejumlah negara sudah melakukan komunikasi terkait bantuan pemadaman karhutla termasuk Singapura dan Malaysia.
"Sudah ada beberapa negara yang menawarkan kepada kita saat ini memang kita butuh waktu untuk menginventarisasi kebutuhan apa saja. Sehingga nanti kalau memang kita tidak bisa dan alat itu tidak ada di kita, ya kita minta kepada mereka. Jadi bantuan itu biar maksimal, tepat guna, tepat sasaran," kata Kristomei.
Dia menjelaskan Singapura sudah berkirim surat mengenai bantuan masker, air minum dan penggunaan Hercules C-130. Memberikan contoh penggunaan pesawat Hercules C-130, dia menyebut Indonesia sudah memiliki pesawat tersebut dan saat ini belum membutuhkannya.
"Tapi kalau kita punya, kenapa harus kita minta? Contoh kalau pesawat Hercules, negara lain menawarkan pesawat C-130, lah kita juga ada, tidak efektif kita gunakan. Kenapa harus kita pinjam," ujar Kristomei menambahkan.
Ditanya lebih lanjut sampai kapan inventarisasi kebutuhan tersebut, Kepala BNPB mengatakan prosesnya akan dilakukan secepat mungkin untuk melengkapi upaya pemadaman yang dilakukan di sejumlah lokasi.
Terkait target pemadaman karhutla, dia menjelaskan pemerintah ingin melakukannya secepat mungkin dan untuk itu penggunaan sejumlah inovasi saat ini tengah dilakukan mulai dari dry ice sampai cairan khusus untuk membantu pemadaman.
Dry ice digunakan dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) terutama untuk mengurai asap karhutla. Sementara cairan Realiza Anti Chamas dari Brasil telah diuji coba di wilayah Banyuasin, Sumatera Selatan. Bahan tersebut berupa serbuk yang dilarutkan dalam air untuk disemprotkan ke api dan berfungsi menghambat penyebaran kebakaran.