NADIKABAR.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa hunian sementara (huntara) bagi korban terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terbukti kokoh dan tahan guncangan gempa bumi.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan di Jakarta, Rabu, memberikan penjelasan utuh mengenai informasi di media sosial terkait kondisi pembangunan huntara di Dusun Ronting, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara.
"Kekuatan struktur huntara terbukti secara nyata saat guncangan gempa bumi susulan M 5,3 melanda Manggarai Timur pada Senin (21/9). Sebanyak tujuh unit huntara di Desa Gurung Liwut berdiri kokoh, aman, dan tidak mengalami kerusakan sedikit pun," kata dia.
Berton menjelaskan, ketujuh unit huntara tahan gempa tersebut bahkan telah resmi diserahterimakan kepada warga penerima manfaat pada hari yang sama saat gempa susulan terjadi.
Mengenai video viral yang memperlihatkan kerangka baja ringan roboh di lokasi, Berton mengonfirmasi bahwa struktur tersebut masih berada dalam tahap instalasi awal (work in progress) dengan kerangka yang belum dikunci penuh serta fondasi yang belum dicor semen.
"BNPB memastikan bahwa kerangka yang roboh tersebut bukan bagian dari unit huntara yang sudah jadi atau siap huni," ujarnya.
Secara spesifikasi teknis, huntara berukuran 6x4 meter tersebut dirancang dengan tiang dan rangka utama baja ringan, dinding gipsum, atap seng GRC, serta dilengkapi dua pintu dan dua jendela berventilasi memadai.
Untuk penanganan jangka panjang, pemerintah menyiapkan rehabilitasi dan rekonstruksi mencakup 2.422 unit rumah permanen rusak berat (hunian tetap), serta menyalurkan dana stimulan Rp15 juta untuk 7.616 unit rumah rusak ringan dan Rp30 juta untuk 4.146 unit rumah rusak sedang.
Menurut Berton, BNPB dalam hal ini mengimbau masyarakat agar senantiasa bijak serta objektif dalam menyebarkan informasi di media sosial guna menjaga kondusivitas pemulihan warga terdampak.