NADIKABAR.COM — Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono memastikan tidak ada indikasi keterlibatan korporasi dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar kawasan IKN.
Pernyataan ini menyusul pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sempat mengatakan bahwa peristiwa karhutla di sejumlah daerah tidak terjadi secara alami, melainkan karena ada campur tangan manusia dan oknum korporasi.
"(Keterlibatan korporasi di karhutla dekat IKN?) nggak ada di Kalimantan Timur," ujar Basuki menjawab pertanyaan wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026).
Menurut Basuki, praktik pembakaran lahan yang diduga melibatkan korporasi baru ditemukan di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Kalimantan Selatan (Kalsel).
Berdasarkan laporan yang diterimanya, terdapat 23 kasus indikasi keterlibatan korporasi dalam insiden karhutla di wilayah-wilayah tersebut. Sebanyak 11 korporasi telah ditetapkan sebagai tersangka, sementara 12 lainnya masih dalam proses penyelidikan.
"Di Kalbar, Kalteng, Kalsel. Jadi ada 23 toh yang korporasi, yang 11 sudah tersangka, yang 12 belum tersangka, yang 11 itu ada di Kalbar, Kalteng, Kaltim," papar Basuki.
Meskipun tidak dipicu oleh korporasi, Basuki mengungkapkan bahwa total area lahan yang sempat terbakar di kawasan sekitar IKN mencapai sekitar 1.600 hektare.
Sebanyak 900 hektare area terbakar berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, sedangkan 600 hektare sisanya merupakan lahan perkebunan sawit warga.
"Jadi, sekitar 1.600 hektare yang terbakar kemarin, ya. Yang 900 hektare itu di kawasan Bukit Soeharto.... Yang 600 itu ada di lahan kebun sawit. Kesemua sudah padam," kata Basuki.
Basuki menambahkan pemadaman dilakukan secara efektif melalui jalur darat karena luas lahan terbakar tidak begitu luas. Hal ini juga tidak mempengaruhi keberlangsungan proyek-proyek pembangunan utama di Ibu Kota Nusantara.