NADIKABAR.COM — Rentetan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda beberapa kawasan pegunungan di Jawa Timur (Jatim). Sebagai upaya penanganan, BPBD Jatim telah menyiapkan opsi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau biasa disebut hujan buatan.

Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto mengatakan bahwa dari hasil kajian sementara, diketahui masih ada beberapa wilayah pegunungan yang berpotensi terbakar pada musim kemarau kali ini. Kondisi ini yang dinilai perlu mendapat perhatian khusus.

"Wilayah yang jadi prioritas itu daerah dengan potensi kebakaran tinggi, baik di Bromo, Semeru, Arjuno dan meninjau beberapa tahun lalu di Gunung Lawu," kata Gatot kepada awak media, Senin (14/9/2026).

Pelaksanaan operasi hujan buatan ini dilakukan BPBD Jatim berkolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dari hasil komunikasi, waktu paling tepat menurut perhitungan BMKG untuk operasi hujan buatan dilakukan pada periode bulan Oktober 2026 mendatang.

"Kita berharap bulan depan potensi awanya mendukung, sehingga dua armada baik water bombing maupun OMC bisa dimaksimalkan," terang Gatot.

"(OMC) sendiri bisa dilakukan apabila awan yang memang sudah siap dimatangkan ada dan yang bisa memastikan adalah BMKG. Awan yang sudah matang itu nanti disebar garam untuk mempercepat hujan turun," imbuhnya.

Ia menyampaikan bahwa OMC ini merupakan salah satu alternatif yang telah disiapkan BPBD Jatim dalam mengatasi karhutla di musim kemarau kali ini. Sebab, berkaca dalam penanganan rentetan kebakaran ini, ada beberapa kendala yang kerap dihadapi.

"Sejauh ini pembantu penanganan darat adalah melalui helikopter water bombing. Tapi kembali lagi, helikopter water bombing itu sangat bergantung pada cuaca. Sehingga OMC menjadi salah satu alternatif yang disiapkan untuk penanganan kebakaran," ujarnya.

Gatot menyebut bahwa modifikasi cuaca tidak dilakukan di semua wilayah, pelaksanaan akan melihat pada tingkat kebutuhan masing-masing daerah di Jawa Timur. Sebab, ada juga daerah-daerah yang tidak membutuhkan modifikasi cuaca.

"Kita juga melihat panas saat ini sangat baik, dan beberapa wilayah memang tidak berharap adanya OMC karena memang kita mendukung panen teman-teman petani, khususnya petani tembakau," tuturnya.

"Dan ini (keperluan panen petani) menjadi salah satu pertimbangan kami untuk wilayah-wilayah mana yang bisa dilakukan OMC, mana yang perlu hanya dilakukan water bombing," imbuhnya.