Jaringan pemantauan ini terintegrasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), pos pemantauan, serta radar cuaca guna memantau intensitas curah hujan di kawasan puncak.

"​Langkah pengamanan ini dinilai krusial, terutama pada akhir pekan ketika kawasan lereng Merapi ramai dikunjungi wisatawan maupun aktivitas jeep wisata," katanya.

Ia mengatakan BPBD Sleman mengimbau agar masyarakat dan wisatawan meningkatkan kewaspadaan jika terjadi cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi di atas kapasitas rata-rata.

​"Jika terjadi cuaca ekstrem di puncak, kami langsung mengaktifkan EWS untuk memberikan peringatan dini potensi banjir bandang atau lahar dingin, sehingga warga dan pelaku wisata di sekitar alur sungai dapat segera mengamankan diri ke tempat yang lebih aman," tambahnya.

Selain itu, lanjut Bambang, BPBD Sleman juga mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi menyusul masa transisi dari musim kemarau menuju pancaroba dan musim hujan, seperti angin kencang, sambaran petir, serta potensi tanah longsor di beberapa wilayah rawan.