Kondisi itu kemudian mendorong lebih banyak lulusan sekolah atau pendidikan perfilman untuk bekerja di luar industri perfilman tapi yang masih bersinggungan dengan kemampuan mereka, seperti media, agensi, atau bidang komunikasi.

Fenomena itu, ditambah dengan pasar film yang terus berkembang serta dorongan produksi konten lokal yang meningkat, diduga ikut menciptakan situasi Indonesia kekurangan talenta perfilman bahkan hampir di setiap sektor.

"Talentnya ada banyak cuma untuk technical department kayak DOP, artistic, kemudian semualah kayak editor, penulisan, segala macam itu kita butuh lebih banyak talent lagi," kata Fauzan.

"Untuk sutradara juga, kita juga butuh lebih banyak sutradara lagi. Produser juga seperti itu, jumlah produser yang ada di Indonesia enggak tumbuh terlalu banyak. Jadi semua ini, ya akhirnya dari talent manajemen yang kita butuhkan untuk lebih banyak lagi," lanjutnya.

Program magang yang digelar oleh pemerintah beberapa tahun terakhir sebenarnya ikut membantu industri perfilman dalam merekrut tenaga-tenaga baru. Namun sayangnya, kata Fauzan, tak banyak perusahaan film yang lolos standar untuk program tersebut.

Fauzan memaparkan, ada banyak faktor yang memengaruhi, terutama dari pemenuhan aturan ketenagakerjaan yang membuat kebanyakan production house (PH) selain studio besar, sulit untuk bisa bergabung dalam program tersebut.