NADIKABAR.COM β Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mendorong Camino de Flores menjadi salah satu ikon wisata religi di Nusa Tenggara Timur (NTT) karena memadukan perjalanan spiritual, kekayaan budaya, keindahan alam dan kepedulian sosial terhadap masyarakat Flores.
Pelaksana tugas Direktur Utama BPOLBF Andhy MT Marpaung mengatakan Camino de Flores di Labuan Bajo, Kamis, menunjukkan bahwa perjalanan wisata tidak hanya menawarkan pengalaman rekreasi, tetapi juga membuka ruang interaksi langsung antara wisatawan dan masyarakat serta memperkuat pelestarian warisan budaya lokal.
βCamino de Flores menunjukkan bahwa perjalanan wisata dapat menjadi ruang untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, mengenal warisan budaya, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap daerah yang dikunjungi,β katanya.
Rangkaian perjalanan ziarah Camino de Flores Etape Tengah yang melintasi Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Ende tersebut resmi berakhir pada Senin (26/10), setelah para peserta menuntaskan perjalanan dengan jalan kaki sejauh kurang lebih 70 kilometer.
Pada hari terakhir, peserta menempuh perjalanan menuju Puncak Danau Kelimutu dan melanjutkan perjalanan ke Desa Wisata Waturaka, Kabupaten Ende, dengan jarak sekitar 13 kilometer.
Perjalanan lintas wilayah tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, mengenal kehidupan lokal, serta menikmati keindahan alam dan kekayaan budaya Flores.