Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Serambi Soekarno di Biara Santo Yosef, Ende. Situs bersejarah tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pengasingan Presiden pertama RI Soekarno di Ende pada 1934–1938, ketika ia membaca, berdiskusi, dan bertukar gagasan dengan para biarawan.

Kegiatan ditutup dengan Misa Penutupan Camino de Flores yang dipimpin Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden di Gereja Katedral Kristus Raja, Ende, kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan malam bersama di Rumah Kevikepan Ende.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena juga mengapresiasi penyelenggaraan Camino de Flores yang dinilai berpotensi menjadi salah satu kekhasan pariwisata religi di daerah itu.

Ia mengatakan kegiatan tersebut sebelumnya telah diluncurkan di Kementerian Pariwisata dan mendapat perhatian sebagai salah satu program percontohan pengembangan wisata religi di Indonesia.

β€œBeberapa waktu lalu, kegiatan ini diluncurkan di Kementerian Pariwisata dan mendapat perhatian sebagai salah satu program percontohan untuk pengembangan wisata religi di Tanah Air. Kami berharap Camino de Flores dapat terus diselenggarakan dan berkembang menjadi salah satu kekhasan pariwisata Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores,” ujarnya.