NADIKABAR.COM — Akhir pekan lalu, perhatian dunia tertuju pada BRICS Summit 2026 yang berlangsung di New Delhi, India. Pertemuan puncak negara-negara anggota BRICS itu mengangkat tema Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability.
Meski banyak pembahasan berkisar pada geopolitik dan ekonomi global, terdapat satu benang merah yang sangat menarik, yaitu pentingnya infrastruktur digital, kecerdasan buatan (AI), dan konektivitas dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masa depan.
Bagi sebagian orang, topik tersebut mungkin terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun sesungguhnya hampir seluruh aktivitas digital yang kita lakukan saat ini, mulai dari berbelanja online, menggunakan mobile banking, bekerja dari rumah, belajar secara daring, hingga memesan transportasi online, bergantung pada satu hal yang sama: jaringan telekomunikasi. Tanpa konektivitas yang andal, ekonomi digital tidak akan berjalan.
Karena itulah, salah satu pelajaran penting dari BRICS 2026 adalah bahwa telekomunikasi tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai industri pendukung. Industri ini telah berubah menjadi fondasi utama yang menopang aktivitas ekonomi modern.
Sama seperti jalan raya dan pelabuhan pada era industri, jaringan telekomunikasi kini menjadi infrastruktur dasar bagi ekonomi digital.
Pesan tersebut terlihat jelas dalam berbagai agenda BRICS yang menyoroti pembangunan digital public infrastructure, adopsi AI, penguatan ketahanan ekonomi, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas layanan masyarakat. Semua tujuan tersebut memiliki satu syarat utama, yaitu tersedianya konektivitas yang kuat dan merata.
Selama bertahun-tahun, telekomunikasi sering kali dianggap hanya sebagai penyedia "pipa" untuk menyalurkan data. Nilai ekonomi terbesar dianggap berada pada aplikasi digital, platform e-commerce, media sosial, atau layanan keuangan digital. Namun kenyataannya, seluruh layanan tersebut tidak akan dapat beroperasi tanpa jaringan yang mampu menghubungkan miliaran pengguna secara bersamaan.
Bayangkan jika jaringan internet berhenti beroperasi selama satu hari penuh. Aktivitas perbankan digital akan terganggu. Transaksi e-commerce akan terhenti. Proses belajar daring akan terhambat. Sistem logistik akan mengalami gangguan. Bahkan komunikasi antarinstansi pemerintah dan perusahaan dapat terdampak. Situasi ini menunjukkan bahwa konektivitas telah berubah menjadi kebutuhan ekonomi yang sangat mendasar.
Contoh menarik dapat dilihat dari India, tuan rumah BRICS tahun ini. Dalam beberapa tahun terakhir, India sering dijadikan rujukan dunia dalam pengembangan digital public infrastructure.
Melalui integrasi identitas digital, sistem pembayaran digital, dan berbagai layanan publik berbasis teknologi, India berhasil mempercepat akses masyarakat terhadap layanan yang sebelumnya membutuhkan proses panjang.
Keberhasilan tersebut bukan hanya hasil dari pengembangan aplikasi, tetapi juga didukung oleh investasi besar pada infrastruktur telekomunikasi yang memungkinkan layanan digital menjangkau ratusan juta orang.