Berdasarkan paparan tim BRIN, teknologi tersebut telah mencapai tahap prototipe skala penuh, memenuhi standar SNI, dan siap memasuki tahap produksi percontohan. Bahan bakunya dapat berasal dari sabut kelapa, bambu, tandan kosong kelapa sawit, serta sumber biomassa lainnya.

Keunggulan yang dipaparkan meliputi bobot lebih ringan, kemampuan meredam panas, dan efisiensi penggunaan material. Bobot yang ringan berpotensi mengurangi beban struktur atap sehingga mendukung keselamatan bangunan di wilayah rawan gempa.

Diskusi juga membahas ketersediaan dan karakteristik sabut kelapa di Buleleng, proses pengolahan, formulasi material, serta kebutuhan pengujian kekuatan mekanis, penyerapan air, ketahanan cuaca dan api, stabilitas dimensi, kelayakan ekonomi, dan dampak lingkungan.