NADIKABAR.COM — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan lembaganya menguji efektivitas penggunaan teknologi es kering (dry ice) yang telah digunakan dalam operasi modifikasi.
"Dry ice sudah (digunakan) di lapangan, sudah bersama-sama. Kami juga ingin mengkaji efektivitasnya seperti apa,” kata Arif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa.
Kajian efektivitas teknologi tersebut, lanjut Arif, sebagai bagian dari pengembangan inovasi untuk meningkatkan pelaksanaan modifikasi cuaca.
BRIN juga menyiapkan sejumlah inovasi teknologi untuk mendukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Selain dry ice, Arif menjelaskan terdapat teknologi berbasis material berukuran dua mikron dan teknologi lain yang masih dipersiapkan untuk pengujian.
Menurutnya, persiapan pengujian sejumlah teknologi tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan TNI Angkatan Udara (TNI AU).
Peralatan yang dibutuhkan juga telah disiapkan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan.
"Kemarin sore sudah koordinasi dengan TNI AU dan pasukan sudah siap semua. Insya Allah, kami akan mencoba beberapa inovasi," terangnya.
Arif menambahkan, pengembangan dan pengujian teknologi modifikasi cuaca melibatkan kolaborasi sejumlah instansi, antara lain BRIN, TNI AU, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Kementerian Perhubungan.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat pengembangan dan pemanfaatan teknologi hasil riset untuk mendukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.
Arif menegaskan pengujian di lapangan menjadi bagian penting untuk mengetahui efektivitas teknologi yang dikembangkan sebelum dimanfaatkan lebih luas.