Selain minyak nabati, ia menyoroti potensi minyak jelantah dan bahan baku non-pangan lainnya untuk produksi bahan bakar nabati (biofuel). Pemanfaatan bahan tersebut dapat meningkatkan nilai tambah limbah sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.
Ia memaparkan bahan bakar dari minyak jelantah memiliki intensitas emisi sekitar 18 gram CO₂ ekuivalen per megajoule, lebih rendah dibandingkan bahan bakar jet fosil yang mencapai sekitar 89 gram CO₂ ekuivalen per megajoule.
Angka tersebut menunjukkan potensi penurunan emisi sekitar 80 persen dalam skenario yang digunakan. Besarnya penurunan emisi bergantung pada jenis bahan baku, proses produksi, kebutuhan energi, dan metode perhitungan emisi.
Melalui penelitian ini, BRIN mengembangkan teknologi katalisis untuk mengolah sumber karbon terbarukan menjadi produk energi bernilai tambah.