NADIKABAR.COM — Peneliti Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Julinton Sianturi mengungkapkan alasan inovasi formula berbasis singkong jauh lebih efektif untuk memadamkan kebakaran lahan gambut dibandingkan dengan menggunakan air biasa.
Dalam kegiatan diskusi yang digelar di Kantor BRIN, Jakarta, Selasa, ia memaparkan suhu api pada kebakaran lahan gambut, baik di permukaan maupun di bawah tanah, sebagai ekstrem dan merugikan sifat fisik air.
Berdasarkan hasil pengamatan, suhu api yang membara di lahan gambut bisa menembus di atas 500 derajat Celcius, sedangkan air sudah mendidih dan menguap mutlak di suhu 100 derajat Celcius.
"Yang artinya, ketika bapak/ibu masukkan air, air mendidih pada suhu berapa? Suhu 100 (derajat). Itu sudah kalah. Berarti sebelum dia menyentuh (tanah), dia sudah menguap. Ini yang menjadi permasalahan di pemadaman menggunakan air," katanya.
Ia menilai kondisi termal yang timpang tersebut membuat semprotan air dari petugas pemadam menjadi boros dan tidak efisien, karena air akan langsung menguap sebelum berhasil menembus bara api utama.
Guna menjawab kendala termal tersebut, tim peneliti BRIN menciptakan terobosan presisi dengan memadukan molekul pati (starch) yang diekstrak dari singkong dengan senyawa amonium polifosfat (APP).
Julinton menjelaskan kombinasi cairan singkong APP ini dirancang secara molekuler agar mampu merespons dan bereaksi secara instan ketika bersentuhan langsung dengan kobaran api karhutla bersuhu ekstrem.
Ketika menyentuh suhu panas tinggi, amonium polifosfat akan terdekomposisi lalu berinteraksi kuat dengan molekul pati singkong untuk menghasilkan sebuah lapisan isolator tebal yang disebut char.
"Ini namanya char. Yang dihasilkan dari proses reaksi ini, yang mampu menghambat perpindahan panas, menghalangi oksigen dan memutus akses oksigen. Jadi ketika api itu tadi dia naik, ketika kami semprotkan itu (singkong APP), dia langsung tertutup gitu, seperti menyelimuti. Nah, itulah pendekatan yang kita lakukan," ujarnya.
Dengan tertutup celah pasokan oksigen dan terhalang perpindahan panas, katanya, rantai pembakaran dari bawah tanah yang biasanya terus memicu rambatan api ke atas permukaan secara otomatis terputus.
Menurut dia, efektivitas formula molekuler ini terbukti telak dalam data uji coba, di mana pemadaman api menggunakan air biasa menghabiskan 120 liter, sedangkan metode singkong APP memerlukan 65 liter untuk menyelesaikan tugas yang sama.
"Dan penggunaan medianya itu, sekitar 46 persen lebih sedikit daripada penggunaan air," ucap Julinton Sianturi.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan bahan pemadam kebakaran berbasis tepung ubi atau singkong sebagai alternatif untuk membantu penanganan karhutla.
Ia meminta riset dan produksi bahan tersebut segera dilakukan.
Ia juga meminta pengajuan anggaran untuk mendukung pengembangan.
"Intinya dia bisa meredam. Menarik sekali itu. Bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar," ucap Prabowo.