Penelitian ini juga menjangkau kawasan Gunung Sawal, Karangkamal, hingga Situs Balaniksa di Bojongmengger. Dian menekankan bahwa pemilihan lokasi ini didasarkan pada posisi geografis yang krusial, seperti di tepian sungai atau lembah yang rawan tergerus zaman dan cuaca.
"Kita memilih beberapa titik, termasuk yang berada di pinggir sungai, lembah dan pegunungan. Jangan sampai situs-situs itu kemudian tergerus erosi. Jadi, pelestarian situs juga harus melihat kondisi lingkungan di sekitarnya," katanya.
Bagi Ciamis yang dijuluki Kota Seribu Situs, riset ini menegaskan bahwa warisan leluhur adalah modal keselamatan masa depan. Hutan yang terjaga di atas bukit bukan sekadar pemandangan hijau, melainkan jaminan ketersediaan oksigen dan air bagi generasi mendatang.
"Banyak manfaat yang bisa kita lihat. Dari sampel yang diteliti, situs-situs di Ciamis ternyata terpelihara dengan baik. Ada situs yang berada di atas permukiman dan menjadi penyangga, sumber mata air tetap terjaga, serta ekosistem di sekitarnya masih dipertahankan," ucap Dian.
Pada akhirnya, benteng terkuat pelestarian ini bukanlah pagar besi, melainkan kesadaran kolektif masyarakatnya.
"Kalau masyarakat tidak punya kesadaran, kawasan itu bisa terus digempur. Karena itu, modal dasar Ciamis adalah bagaimana memelihara. Bukan hanya memelihara situs, tetapi juga bagaimana lingkungan di sekitarnya tetap lestari dan bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat," katanya.
"Hutan yang lestari secara alamiah menjadi pemasok oksigen. Jadi, ketika kita menjaga situs dan hutannya tetap lestari, sebenarnya kita juga sedang menjaga kehidupan masyarakat," tutup dia.
Artikel ini telah naik di NadiKabar.