NADIKABAR.COM — Indonesia mempunyai potensi benih bening lobster (BBL) sekitar 500 juta ekor per tahun. Namun, potensi tersebut belum mampu dimanfaatkan secara optimal untuk mengantarkan Indonesia menjadi pemain utama dalam industri budi daya lobster global.
"Tapi menurut pandangan saya, kalau setiap tahun 500 juta ekor, mestinya lebih dari itu. Ini adalah sebuah kekayaan alam laut kita yang sangat luar biasa, yang secara terus terang sampai hari ini kita belum bisa manfaatkan dengan baik," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Sakti Wahyu Trenggono dalam acara Kick Off Satuan Tugas Pemberantasan Pengeluaran Benih Bening Lobster (Satgas P2BBL) di KKP, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026).
Trenggono mengakui potensi tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Pihaknya telah melakukan uji coba budi daya lobster di berbagai wilayah, seperti Batam dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Besarnya potensi BBL belum menjadikan Indonesia unggul dalam industri budi daya lobster. Kami sudah mencoba. Namun masih kalah dengan kebutuhan yang sangat cepat. Jadi kami sudah bisa dan sudah berhasil dengan baik untuk melakukan uji coba budidaya di beberapa tempat yang kami lakukan, di Batam, di Nusa Tenggara Barat," beber Trenggono.
Salah satu penyebabnya, nelayan lokal tergiur untuk menjual BBL ke negara tetangga karena perbedaan harga yang sangat tinggi tim redaksi tingkat lokal dan luar negeri. Di tingkat nelayan, harga BBL dibanderol sekitar Rp 8.500 per ekor. Sebaliknya, harga di negara tetangga, seperti Vietnam bisa melonjak hingga Rp 35.000.