Agus menyebut SKB menjadi pintu gerbang bagi anak-anak yang sebelumnya tidak sekolah, putus sekolah, atau belum memperoleh kesempatan belajar untuk kembali mendapatkan akses pendidikan. Mereka akan menjalani Pendidikan Kesetaraan Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA) yang terbuka untuk semua usia, dengan sistem pembelajaran yang fleksibel dan inklusif di sentra-sentra milik Kemensos.
"Hari ini kita sudah menyaksikan bagaimana Kemensos melalui Direktorat Rehabilitasi Sosial mewadahi anak-anak kita yang belum bisa masuk di sekolah rakyat. Jadi SKB ini adalah saudara dari sekolah rakyat bagi anak-anak kita yang memang ingin melanjutkan pendidikan atau yang ingin bersekolah," jelas Agus.
Adapun 92 siswa-siswi yang akan belajar di SKB STIS terdiri dari 36 orang dari jenjang SD (26 laki-laki, 10 perempuan), 41 orang pada jenjang SMP (30 laki-laki, 11 perempuan), dan jenjang SMA sebanyak 15 orang (11 laki-laki, 4 perempuan.
Agus menjelaskan pembentukan SKB bertujuan memutus transmisi kemiskinan antargenerasi melalui jalur pendidikan. Ia menyebut Presiden Prabowo tidak ingin jika ada anak-anak yang ikut miskin lantaran orangtuanya juga miskin.