"Ini adalah satu modal budaya yang kuat. Tetapi tentu saja tidak bisa disepelekan. Harus tetap dijaga, dipelihara, karena sewaktu-waktu bisa hilang kalau pelaku-pelakunya meninggalkan adat istiadat, budaya, agama, dan juga seni budaya yang menjadi ekspresi di Bali ini," ungkapnya.

Fadli Zon menegaskan bahwa kekayaan budaya Indonesia juga merupakan kekuatan strategis yang dapat dikembangkan sebagai soft power bangsa. Kebudayaan tidak hanya memiliki nilai identitas, tetapi juga memiliki potensi untuk menjadi penggerak baru pertumbuhan ekonomi.

"Berbeda dengan sumber daya alam yang memiliki keterbatasan, ekonomi budaya yang dibangun dalam ekosistem yang sehat dan berkelanjutan dapat terus tumbuh selama ekosistem kebudayaan dan manusianya tetap terjaga," jelasnya.

Fadli Zon juga turut menegaskan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam pemajuan kebudayaan. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menginstitusikan warisan budaya melalui pendidikan, penelitian, dokumentasi, pengembangan pengetahuan, dan pewarisan kepada generasi berikutnya.

"UNHI memiliki peluang penting dalam konteks tersebut. Sebagai satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program pengobatan tradisional dan Ayurveda, UNHI memiliki potensi untuk mengembangkan penelitian pada bidang pengetahuan tradisional yang langka," paparnya.

Ke depan, Kemenbud membuka opsi pengembangan skema afirmasi bagi bidang-bidang khusus, termasuk pengobatan tradisional. Skema tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat bidang kebudayaan yang memiliki karakteristik khusus serta membutuhkan dukungan untuk keberlanjutan dan pengembangannya.