Adapun Utsawa Bali Sani menjadi bagian dari ekosistem yang mempertemukan seni, pendidikan, pengetahuan, dan tradisi.
"Dengan penguatan pengetahuan tradisional melalui perguruan tinggi, dapat memastikan pengetahuan yang berkembang di masyarakat tidak terputus, tetapi dapat didokumentasikan, diteliti, dikembangkan, dan diwariskan secara berkelanjutan," pungkas Fadli Zon.
Sementara itu, Rektor UNHI, Cokorda Gde Bayu Putra dalam kesempatan yang sama menyampaikan Festival Utsawa Bali Sani merupakan salah satu wujud kerja pemajuan kebudayaan yang diusung UNHI.
"Mewakili jajaran sivitas akademika UNHI, kami menyampaikan apresiasi kepada Menteri Kebudayaan yang telah bekerja serius melalui beberapa program prioritas Kementerian Kebudayaan, seperti revitalisasi cagar budaya, museum, repatriasi benda budaya, penguatan ekonomi budaya, dan menyalurkan pendanaan bagi para pelaku budaya, komunitas, dan pelaku seni. Ini tentu terobosan yang sangat luar biasa," sambungnya.
Lebih lanjut, Kemenbud kedepannya membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi, sebagai bagian dari upaya membangun dan memperkuat ekosistem kebudayaan nasional. Melalui ekosistem yang kuat dan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, pelaku seni, serta masyarakat, Indonesia dapat memastikan kekayaan budaya atau mega cultural diversity tidak hanya terlindungi, tetapi terus hidup, berkembang, dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Sebagai informasi, turut hadir mendampingi Fadli Zon pada kegiatan ini, antara lain: Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda; Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitas Kekayaan Intelektual, I Made Dharma Suteja; Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Bali, Iskandar Eko P; serta Penasihat Menteri Kebudayaan RI, Putu Supadma Rudana.