Karena itu, ia memilih fokus pada tiga hal yakni pelayanan, tempat, dan cita rasa. Dumaria bahkan tidak berniat menambah banyak menu. Baginya, lebih baik memperkuat menu yang sudah ada daripada menawarkan terlalu banyak pilihan tetapi belum bisa dipertanggungjawabkan.
"Kayanya nggak (nambah menu), karena ini aja udah mantap asal bisa aku tanggung jawab," ujarnya.
Prinsip tersebut menjadi salah satu cara Dumaria menjaga kepercayaan pengunjung yang datang setelah melihat Mie Sop Amanda di media sosial.
Popularitas di media sosial tentu membawa beragam respons. Tak semuanya berupa pujian. Ibu Dumaria mengaku pernah menerima kritik dari pengunjung yang menilai ada bagian dari tempatnya yang masih perlu dirapikan. Namun, kritik tersebut tak dianggap sebagai serangan. Ia memilih menjadikannya sebuah bahan evaluasi.
"Ada yang fotoin dikirim ke saya, 'Kak tolong bikin agak rapi'. Saya balas mohon doanya biar bisa kita lebih bagus," katanya.
Dumaria juga mengajarkan karyawannya untuk pintar melihat situasi dan menjaga cara berbicara kepada pelanggan. Baginya, komentar negatif merupakan bagian dari perjalanan sebuah usaha. Yang penting adalah bagaimana kritik tersebut disikapi.
Di balik perjalanan panjang Mie Sop Amanda, Dumaria juga menyimpan sejumlah pengalaman unik bersama pelanggan. Salah satunya ketika ada pembeli yang merasa pesanannya terlalu lama. Padahal saat itu makanan sudah hampir selesai disiapkan.
Pesanan bahkan sudah dibungkus dan hanya tinggal ditambahkan kuah. Namun, pelanggan tersebut justru pergi meninggalkan pesanannya.
"Ada pembeli ngambek karena lama. Padahal udah dibungkus tinggal kuahnya tapi malah ditinggalin gak bayar," kata Dumaria.