Lantas, siapa negara yang pertama kali mencetak Al-Qur'an jika bukan Arab Saudi?

Dilansir dari Jurnal Studi Keislaman berjudul The Industrialization of the Qur'an in Indonesia Volume 4 Nomor 1 April 2018 susunan Ahmad Saifudin, sejatinya mesin cetak baru ditemukan pada 1436 atau 840 H oleh penemu asal Jerman, yaitu Johannes Guttenberg.

Penemuan mesin cetak itu jadi awal baru dalam penyebaran ilmu, budaya dan peradaban. Italia jadi negara pertama yang mencetak Al-Qur'an.

Pada 1537-1538, Paganino dan Alessandro Paganini mencetak Al-Qur'an pertama kali di Venesia, Italia (sarjana Islam menyebut kota ini dengan nama Al-Bunduqiyyah). Salah satu dari versi cetakan pertama itu ditemukan Angela Novo di perpustakaan seorang pendeta di Bunduqiyah. Tetapi, mushaf hasil cetakan itu tidak bertahan lama karena dimusnahkan pihak gereja setempat.

Seiring berjalannya waktu, muncul banyak macam cetakan Al-Qur'an dari berbagai negara. Misalnya di Hamburg, Jerman, Al-Qur'an dicetak oleh Abraham Hinckelmann pada 1694 M. Abraham bahkan menambahkan kata pengantar dalam bahasa Latin.

Lalu empat tahun kemudian, mushaf Al-Qur'an kembali dicetak ke dalam bahasa Arab dan terjemahan Latin yang mengandung penolakan atas Islam oleh Ludovico Maracci. Pada 1787 M, di Santa Pittsburg juga muncul percetakan Al-Qur'an yang dipimpin Maulaya 'Usman.

Kemudian pada 1838 M, Al-Qur'an dicetak oleh negara Islam yaitu Iran. Beberapa mushaf yang muncul kala itu ditulis dengan tidak menggunakan rasm usmani (cara penulisan Al-Qur'an yang dibakukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan) secara murni.