Kondisi itu berlanjut hingga 1890 M/1308 H, saat sebuah percetakan bernama Al-Matba'ah Al-Bahiyyah milik Syekh Muhammad Abu Zaid berdiri di Kairo, Mesir. Percetakan ini mencetak sebuah mushaf dan ditulis oleh seorang ulama qira'at yaitu Syekh Ridwan bin Muhammad yang lebih dikenal sebagai Al-Mikhallalati.

Dalam mushaf ini, beliau berkomitmen untuk menggunakan rasm usmani dan memberikan tanda waqaf. Di samping itu, beliau juga menuliskan pengantar yang memuat penjelasan tentang sejarah penulisan Al-Qur'an yang kemudian dikenal dengan nama Mushaf Mikhallalati.

Berlanjut pada tahun 1947, untuk pertama kali Al-Qur'an dicetak dengan teknik cetak offset yang canggih dan dengan memakai huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa seorang kaligrafer terkemuka, Badiuzzaman Said Nursi.

Kemudian, sejak 1976, Al-Qur'an dicetak dalam berbagai ukuran dan jumlah yang banyak oleh percetakan yang dikelola pengikut Said Nursi di Berlin, Jerman. Pencetakan mushaf di Arab Saudi baru dimulai pada tahun 1949, ditandai dengan munculnya mushaf yang dikenal dengan nama Mushaf Makkah Al-Mukarramah, dicetak oleh Syarikah Mushaf Makkah Al-Mukarramah.

Perusahaan tersebut mendatangkan sebuah mesin cetak dari Amerika Serikat untuk mencetak mushaf dalam berbagai ukuran. Selain itu, mereka juga telah bekerja sama dengan seorang ahli khat ternama, Ustaz Muhammad Tahir Al-Kurdi, untuk menulis mushaf yang sesuai dengan kaidah rasm usmani.

Mushaf tersebut mendapatkan sambutan yang hangat dan baik di Saudi maupun di luar Saudi. Pada 1979, muncul pula mushaf edisi baru yang dicetak di kota Jeddah. Hingga pada 1984, bertepatan dengan Muharram 1405 H, pemerintah Kerajaan Arab Saudi resmi membuka sebuah percetakan Al-Qur'an terbesar di dunia, tepatnya di kota Madinah Al-Munawwarah.