Melalui koordinasi yang terbangun sejak awal tahun, informasi mengenai lokasi dan waktu panen dapat diterima lebih awal sehingga Bulog dapat menyiapkan petugas, armada pengangkut, serta kebutuhan teknis lainnya untuk memperlancar proses penyerapan.
"Keterlibatan berbagai pihak di lapangan menjadi faktor penting dalam memastikan hasil panen petani terserap sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP)," tuturnya.
Dalam pelaksanaan penyerapan di Kabupaten Kendal, Tim Jemput Pangan Bulog bergerak berdasarkan informasi potensi panen dari lahan seluas sekitar setengah hektare dengan perkiraan hasil 4 hingga 6 ton gabah kering panen (GKP).
Setelah menerima informasi tersebut, petugas Bulog mendatangi lokasi dengan armada pengangkut yang disesuaikan dengan perkiraan volume gabah.
Petugas kemudian melakukan pemeriksaan kondisi gabah dan penimbangan untuk memastikan jumlah pembelian, dengan dukungan petugas pemeriksa kualitas Bulog agar proses berlangsung tertib, transparan, dan sesuai prosedur.
Selain kesiapan petugas dan armada, kepastian harga serta kemudahan pembayaran juga menjadi bagian penting dalam mendukung penyerapan. Perusahaan memberikan pilihan pembayaran secara tunai maupun transfer sesuai kesepakatan dengan petani.
Pembayaran dapat dilakukan pada hari yang sama atau hari berikutnya, bergantung pada waktu panen dan penyelesaian administrasi.
Untuk pembelian GKP di tingkat petani, Bulog mengacu pada harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram any quality dengan kondisi GKP cukup usia panen sesuai ketentuan pemerintah.