"Begitu juga dengan narasi bahwa pemilik anjing merupakan saudara korban, hal tersebut terbantahkan oleh pihak korban yang menyatakan tidak ada ikatan saudara di tim redaksi mereka," kata Hikmat.

Menurutnya, kejadian tersebut berdampak kepada korban secara fisik dan menimbulkan rasa takut, keresahan, dan trauma psikologis bagi sebagian warga Grand Cendana Residence. Sejumlah warga pun merasakan kekhawatiran tinggi terhadap kemungkinan terulangnya kejadian serupa.

"Seluruh warga GCR (kompleks) menyatakan dukungan moril sepenuhnya kepada korban dan keluarga korban, serta kepada seluruh pihak yang terdampak oleh kejadian tersebut," ucapnya.

Dia mengajak seluruh pihak untuk tidak memperkeruh keadaan dengan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi maupun narasi yang menyalahkan korban. Kata dia, warga kompleks pun menyerahkan proses pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut kepada pihak yang berwenang.

"Kami juga mengimbau seluruh masyarakat dan pengguna media sosial untuk menghormati hak privasi korban dan keluarganya, tidak menyebarluaskan identitas maupun dokumentasi pribadi korban tanpa izin, serta menghindari komentar yang dapat menambah beban psikologis korban dan keluarga, bebernya.

Sebagai bentuk upaya menjaga keamanan, kenyamanan, dan ketertiban lingkungan, warga Grand Cendana Residence sepakat mengeluarkan petisi. Di antaranya:

1. Petisi Akses Jalan: Membuat petisi terkait penutupan atau pembatasan akses jalan tertentu bagi pihak dari luar kompleks yang diduga menjadi jalur keluar-masuk hewan tersebut, dengan tetap berkoordinasi dan mengikuti ketentuan yang berlaku.