NADIKABAR.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Selasa (6/10) di zona hijau. IHSG naik 1,21% ke level 6.192,93.
Penguatan IHSG antara lain ditopang saham BYAN yang melesat 9,80%, disusul AMMN naik 6,89% dan MORA menguat 7,82%. Di sisi lain, sejumlah saham berkapitalisasi besar bergerak melemah, seperti BBCA yang turun 1,21%, BBRI terkoreksi 0,32%, dan BREN turun 1,02%.
Dari aktivitas investor, asing mencatatkan net sell Rp597,49 miliar di pasar reguler. Jika dihitung di seluruh pasar, nilai net sell mencapai Rp629,87 miliar.
Seluruh 11 sektor saham yang tercatat di BEI berakhir menguat. Sektor transportasi menjadi sektor dengan kenaikan paling tinggi, yakni 3,16%.
Sentimen positif juga terlihat dari pasar saham Amerika Serikat. Dow Jones naik 0,49% ke level 51.521, S&P 500 bertambah 0,58% ke 7.818, sedangkan Nasdaq menguat 0,45% ke 27.599.
BYAN menjadi salah satu saham yang memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan IHSG. Saham tersebut naik 9,80% dan memberikan pengaruh sebesar 19,67 poin terhadap indeks. Pergerakan BYAN berkaitan dengan perkembangan transaksi akuisisi saham, termasuk peningkatan jumlah saham yang akan dialihkan menjadi 10,08 miliar saham dari sebelumnya 10 miliar saham. Perubahan tersebut menjadi bagian dari perkembangan struktur kepemilikan perseroan.
Sementara itu, ETF EIDO bergerak relatif datar dengan kenaikan 0,08%. Berbeda dengan EIDO, indeks MSCI Indonesia tercatat turun 0,31%.
BUVA mendapat lampu hijau untuk melaksanakan rights issue atau PMHMETD II. Perseroan memperoleh pernyataan efektif dari OJK pada 5 Oktober 2026.
Dalam aksi tersebut, BUVA menetapkan rasio 4:1 dan akan menerbitkan 6,15 miliar saham baru. Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp250 per saham, sehingga dana yang berpotensi diperoleh perseroan mencapai sekitar Rp1,54 triliun.
Dana hasil aksi korporasi tersebut akan digunakan untuk sejumlah kebutuhan pengembangan dan pembiayaan. BUVA mengalokasikan Rp426,34 miliar sebagai penyertaan modal untuk pengembangan West Resort Uluwatu.
Selanjutnya, Rp417,80 miliar akan digunakan untuk pelunasan dipercepat utang kepada Bank Mandiri. Perseroan juga menyiapkan Rp390,34 miliar untuk pembangunan Uluwatu Estate.
Adapun masing-masing Rp 150 miliar dialokasikan untuk renovasi Alila Ubud dan pengembangan Bintan Land. Bagi pemegang saham yang tidak menggunakan haknya dalam aksi tersebut, kepemilikannya berpotensi terdilusi maksimal 20%.