Alat berat itu, kata dia, penting disiagakan agar bisa bekerja cepat membersihkan sampah-sampah atau material kayu terbawa banjir, hingga menutup tanggul-tanggul sungai yang jebol.
Sejauh ini, lanjut Asyari, berdasarkan hasil pengamatan lapangan, terdapat beberapa daerah di Aceh yang rawan terjadinya banjir berulang, yaitu Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Singkil dan wilayah Pidie.
"Penanganan tanggap darurat ini untuk mencegah dampak yang lebih luas, jadi konsep penanganan darurat menutupi tanggul yang putus, membuka alur sungai, membersihkan sampah dan normalisasi sungai supaya airnya bisa lancar," kata Asyari.
Selain itu, terkait penanganan tanggap darurat bencana hidrometeorologi Aceh secara keseluruhan, Asyari menyampaikan bahwa progresnya sudah mencapai 92,5 persen. Ditargetkan proses rehab-rekon bisa berjalan pada Oktober 2026 ini.
"Tanggap darurat sudah 92,5 persen, pekerjaan rehab-rekon dalam proses lelang, target kira Oktober 2026 ini bisa berjalan semua," katanya.