"Yang paling penting adalah bagaimana air yang tersedia ini bisa kita kelola secara optimal. Mulai dari sumber air, jaringan irigasi, sampai distribusinya kepada petani," ujarnya.

Selain tampungan waduk dan rawa, ketersediaan air baku di Lamongan hingga Agustus 2026 tercatat 504.101,48 meter kubik. Khusus kebutuhan air baku di kawasan Bengawan Jero, suplai air diperoleh dari long storage Bengawan Solo.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan, pemkab terus memperkuat mitigasi kekeringan untuk memastikan kebutuhan air masyarakat dan pertanian tetap terpenuhi selama musim kemarau.

Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan dan revitalisasi infrastruktur sumber daya air, di antaranya pembangunan embung, revitalisasi waduk hingga pengembangan biopori sebagai bagian dari konservasi air.

Yuhronur meminta target kerja dalam penanganan kekeringan dipertajam. Sebab, penanganan kekeringan di sejumlah wilayah, termasuk Sarirejo dan Tikung, dinilai masih bersifat sementara.

"Target kerja harus dipertajam. Penanganan kekeringan di wilayah Sarirejo dan Tikung masih bersifat penyelesaian sementara," kata Yuhronur.