NADIKABAR.COM — Dalam suatu acara pentas kesenian dan diskusi di Studio Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menumpahkan sekelumit daya pahamnya tentang hastabrata dalam bukunya.

Meskipun hanya sekelumit, cerita Pak Wali sepertinya memancing rasa penasaran audiens, termasuk budayawan Sutanto Mendut dari Komunitas Lima Gunung Magelang, untuk menghadiri bedah buku yang diagendakan pada November mendatang.

Apalagi, Pak Wali menjanjikan untuk membagikan bukunya di acara itu. Ia tidak menyebutkan judulnya, tetapi di ujung pidatonya dia mengaku menulis tentang hastabrata versinya.

Dengan berkelakar, pembawa acara yang juga dalang Sih Agung Prasetyo mengatakan ia melamar jadi pembawa acara bedah buku tersebut. Pak Wali setuju dan audiens tampak semringah.

Sepertinya, bedah buku itu menjadi bagian dari peringatan dua tahun kepemimpinannya sebagai kepala daerah di Magelang, kota kecil dengan tiga kecamatan yang dikelilingi lima gunung: Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.

Ajaran Jawa tentang hastabrata erat kaitannya dengan jiwa atau spiritualitas kepemimpinan yang bersumber dari delapan benda semesta: matahari, bulan, bintang, langit, angin, bumi, air, dan api. Hasta berarti delapan dan brata berarti laku atau sikap.

Di penghujung September itu, para seniman Terminal Mendut untuk kedua kalinya menghadirkan karya seni kontemporer yang bertemakan hastabrata. Sebelumnya pada bulan yang sama, tema serupa juga diangkat dalam acara pertemuan pemuda lintas iman di Vihara Mendut, di samping Candi Mendut. Hastabrata dalam acara itu dilumerkan dengan keterhubungan elite-elite agama, menurut Sutanto Mendut.

Wali Kota Damar menanggap kelompok itu, yang membawakan karya seni teatrikal "Krisis Hastabrata" di bawah koordinasi seniman Munir Syalala di Studio Mendut. Acara tersebut juga diramaikan dengan pementasan tari, pembacaan geguritan, dan pidato dalam bahasa Jawa oleh anak-anak sekolah.