NADIKABAR.COM — Pemerintah Kota Jakarta Timur melalui Kelurahan Cakung Barat memasang tong biopori jumbo di 43 titik di Jalan Komarudin RW 03, untuk pengelolaan sampah organik.

"Hingga saat ini Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Cakung Barat telah membuat sekitar 43 titik biopori jumbo yang tersebar di sejumlah wilayah kerjanya, meliputi RW 01, RW 02, RW 03, RW 07, RW 08, dan RW 10," kata Lurah Cakung Barat Yasir Habib Putra di Jakarta, Sabtu.

Menurut Yasir, jumlah biopori jumbo tersebut akan terus ditambah secara bertahap dan diperluas ke wilayah lain di Kelurahan Cakung Barat.

"Puluhan Tong Biopori Jumbo ini diproyeksikan sebagai edukasi warga dalam mengurangi sampah dari rumah tangga dan daun-daun kering agar terurai menjadi kompos alami, sekaligus membantu meresapkan air ke dalam tanah," jelas Yasir.

Yasir menilai program pemasangan biopori jumbo ini merupakan salah satu upaya mengoptimalkan pengelolaan sampah organik di lingkungan masyarakat, khususnya di sepanjang Jalan Komarudin.

Melalui program tersebut, sampah organik diharapkan dapat dikelola dengan lebih baik sehingga mengurangi penumpukan sampah dan mendukung kebersihan lingkungan.

Selain itu, keberadaan biopori jumbo diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah secara berkelanjutan.

"Dengan penambahan titik biopori jumbo secara bertahap, Kelurahan Cakung Barat berupaya mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, tertata, dan berkelanjutan," ucap Yasir.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Jakarta Timur mengandalkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dan biopori untuk mengelola sampah di Jakarta Timur sekaligus menekan ketergantungan terhadap Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

"Kami optimistis pengembangan maggot BSF, komposter, dan biopori dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan di masyarakat," kata Wali Kota Jakarta Timur Munjirin di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Rabu (10/6).

Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Timbulan Sampah.

Pengelolaan sampah organik perlu menjadi prioritas karena sebagian besar sampah rumah tangga berasal dari sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan dedaunan.

Jika tidak diolah sejak dari sumbernya, volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang akan terus meningkat.