Berangkat dari rasa penasaran, Valen ingin melihat langsung bugenvil itu. Nyatanya, apa yang terpampang di media sosial sesuai dengan ekspektasinya.

"Iya, sama dengan yang di medsos. Bagus!" ungkapnya dengan nada riang.

Dia mengaku baru kali ini menemukan spot foto ciamik berhiaskan bugenvil. Biasanya dia pergi ke Jalan Madukoro, Semarang Barat, lokasi di mana pohon-pohon tabebuya bermekaran awal kemarau.

"Ini baru sih spot fotonya. Baru ke sini sekarang. Kalau biasanya kan di Madukoro itu," terangnya.

Edi menuturkan dirinya menanam bunga bugenvil sejak tujuh tahun lalu. Bermula dari hobinya merawat tanaman.

"Dari dulu saya suka tanaman hias sampai akhirnya ke bugenvil. Ini sudah saya tanam dan rawat sejak tujuh tahun lalu," ungkap kakek pensiunan ASN itu.

Mulanya dia menanam bunga lain. Namun tidak ada kembang yang bermekaran. Alhasil, Edi mencoba peruntungan lain melalui bugenvil.

"Sebetulnya dulu bukan bugenvil. Kok tidak berbunga. Saya ganti bugenvil," jelasnya dengan nada antusias.

Saat itu dia hanya menanam satu macam bugenvil. Dia pun memutuskan untuk menanam berbagai macam bugenvil sehingga menghasilkan beragam warna kembang.

Tak cukup menanam, Edi juga menata kembangnya sedemikian rupa hingga memiliki tiga ruas. Sudah tiga bulan bunganya bermekaran tahun ini.

"Kita kembangkan kita sambung dan jadi berapa warna. Akhirnya bugenvil itu masalahnya kalau panjang dia berbunga. Ini bagaimana bisa berbentuk (memiliki tiga ruas dengan jarak yang pendek), kita usahakan supaya bentuknya ada, tapi bunganya lebat," bebernya.