Masyarakat juga perlu memahami bahwa prediksi sebaran abu vulkanik bukan kondisi yang bersifat tetap.

Arah dan luas sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer, terutama arah serta kecepatan angin.

Artinya, prediksi yang terlihat saat ini belum tentu sama beberapa jam kemudian.

Karena itu, masyarakat tetap perlu memantau perkembangan terbaru dari lembaga resmi, terutama jika wilayah tempat tinggal berada di sekitar gunung api atau masuk dalam area yang diperkirakan terdampak.

Selain menggunakan layanan pemantauan berbasis web, masyarakat tetap disarankan mengikuti informasi resmi dari PVMBG/Badan Geologi, BMKG, BNPB, serta pemerintah daerah.

Informasi dari lembaga resmi penting untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung api, arah sebaran abu, kondisi cuaca maupun rekomendasi yang harus dilakukan masyarakat.

Jika suatu wilayah diperkirakan terdampak abu vulkanik, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah perlindungan sesuai arahan otoritas.

Di antaranya menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel, menutup pintu dan jendela, melindungi sumber air serta membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi tidak memungkinkan.

Masyarakat kini dapat cek sebaran abu vulkanik lewat HP tanpa perlu menginstal aplikasi. Caranya cukup membuka browser dan mengakses layanan pemantauan sebaran abu vulkanik.

Pengguna dapat memilih gunung api yang ingin dipantau, memasukkan lokasi atau kota tempat tinggal, kemudian melihat arah pergerakan abu serta perkiraan wilayah yang berpotensi terdampak hingga 18 jam ke depan.

Meski praktis, informasi tersebut tetap perlu digunakan sebagai referensi tambahan. Untuk keputusan terkait keselamatan, masyarakat harus tetap mengutamakan informasi dan arahan resmi dari BMKG, PVMBG/Badan Geologi, BNPB dan pemerintah daerah.