Sebelum menggunakan motor, pengendara juga perlu memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan baik.
Beberapa bagian yang perlu diperiksa tim redaksi lain tekanan dan kondisi ban, sistem pengereman, lampu utama, lampu belakang, lampu sein, spion serta kondisi mesin.
Bagian kendaraan yang berfungsi sebagai penyaring udara juga perlu diperhatikan karena abu vulkanik dapat masuk dan menumpuk di dalamnya.
Selain kondisi motor, pengendara sebaiknya memantau informasi resmi mengenai aktivitas gunung api, arah penyebaran abu, kondisi lalu lintas dan kemungkinan adanya penutupan jalan.
Jika terpaksa berkendara ketika hujan abu vulkanik terjadi, pengendara disarankan mengurangi kecepatan.
Abu yang menutupi permukaan jalan, terutama ketika bercampur dengan air, dapat membuat jalan menjadi lebih licin dan mengurangi daya cengkeram ban.
Hindari melakukan manuver secara tiba-tiba. Kendalikan motor dengan halus dan berikan perhatian lebih terhadap kondisi lalu lintas di depan.
Jaga jarak aman dengan kendaraan lain untuk mengantisipasi kondisi jalan yang sulit diprediksi.
Jika hujan abu semakin pekat hingga membuat jarak pandang sangat terbatas, jangan memaksakan diri untuk terus berkendara.
Kurangi kecepatan secara bertahap, nyalakan lampu utama dan jaga jarak dengan kendaraan lain. Setelah itu, cari tempat yang aman untuk menepi.
Pengendara juga sebaiknya tidak membuka visor helm ketika abu masih pekat untuk mengurangi paparan langsung terhadap mata dan wajah.
Jika perjalanan tidak mendesak, menunda perjalanan hingga kondisi kembali aman menjadi pilihan yang paling tepat.
Jadi, bagi pemilik motor yang terkena abu vulkanik, ingat satu hal penting: jangan langsung dilap saat abu masih kering. Basahi terlebih dahulu dengan air hingga abu terangkat, kemudian lanjutkan dengan pencucian menggunakan air dan sabun khusus kendaraan serta spons atau kain yang bersih dan lembut.
Selain bodi, periksa juga filter udara, rem, rantai, mesin, CVT, lampu, ban dan bagian roda agar motor tetap dalam kondisi baik setelah terpapar abu vulkanik.