Bahkan, pada dasarian kedua September 2026, Wonogiri masuk dalam status awas pada peringatan dini kekeringan meteorologis dari BMKG Jawa Tengah.

Di tengah situasi tersebut, penyesuaian kalender tanam menjadi krusial bagi keputusan ekonomi petani. Lahan yang biasa digunakan untuk menanam padi pada musim hujan pun dapat dialihkan ke komoditas lain yang lebih toleran terhadap minimnya pasokan air selama musim kemarau.

Salah satu petani yang menerapkan pola tersebut adalah Katino (46), warga Eromoko, Wonogiri. Sebelum menjadi petani tembakau, Katino bekerja sebagai sopir truk. Keputusannya beralih ke dunia pertanian bermula saat melihat seorang petani berusia sekitar 70 tahun baru saja menjual hasil panen tembakau di sebuah gudang.

Pemandangan itu membuka mata Katino bahwa pertanian merupakan peluang usaha yang menjanjikan. Ia pun mulai serius membudidayakan tembakau pada 2019. Di tahap awal, Katino belajar secara mandiri dari petani lain sebelum akhirnya mendapat pendampingan dari perusahaan pemasok yang bermitra dengan PT HM Sampoerna.

Pendampingan tersebut mencakup seluruh tahapan budidaya, mulai dari pembibitan, pengelolaan lahan, pemupukan, dan penyiraman, hingga penanganan pascapanen.