Menurut Fauzi, Ngarumat Hulu Cai bisa terlihat seperti sebuah kegiatan baru. Warga membersihkan sumber air, menanam pepohonan, kemudian melakukan gotong royong untuk menata kawasan di sekitarnya. Namun, ada jejak tradisi lama di balik kegiatan tersebut.

Ia mendapat cerita dari para sesepuh, masyarakat terdahulu memang telah mengenal cara merawat hulu air dengan pola yang hampir serupa. Karena lama tidak dipraktikkan, tradisi itu kemudian seolah-olah menjadi sesuatu yang baru ketika kembali dilakukan.

"Soalnya sudah banyak yang tidak tahu, jadi seolah-olah itu merupakan inovasi baru. Tapi menurut sesepuh dulu memang seperti ini," tuturnya.

Pengetahuan dari para sesepuh itulah yang kemudian membantu masyarakat ketika tradisi tersebut direstorasi. Mereka masih memiliki ingatan mengenai tahapan dan tata cara yang pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya.

"Jadi dalam prosesnya sudah tidak bingung, karena ada sesepuh yang sudah mengetahuinya," ungkapnya.

Menurut Fauzi, upaya menghidupkan kembali Ngarumat Hulu Cai juga mempertahankan sejumlah unsur lama, termasuk kebiasaan masyarakat berjalan melalui jalur tertentu saat menuju dan meninggalkan lokasi sumber air.

"Sekarang tradisi itu direstorasi kembali. Seperti saat berangkat dan pulang melalui jalan yang sama, harus memutar atau mengambil jalur tertentu, katanya supaya air tidak kembali atau istilahnya bisi mulang cai. Kemudian ada gotong royong dan prosesinya seperti itu," ujarnya.