Fauzi menjelaskan, tradisi itu pada akhirnya bukan hanya tentang ritual. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kegiatan merawat sumber air kemudian menjadi satu kesatuan dengan persiapan Syukuran Lembur. Setelah hulu cai dibersihkan, warga menata kawasan di sekitarnya.
Di bagian atas sumber air, warga menyiapkan majang, yakni rangkaian dekorasi yang ditempatkan beberapa puluh meter dari lokasi hulu cai. Panggung juga ditata dan gugunungan dibuat sebagai bagian dari kegiatan syukuran kampung.
Syukuran lembur tersebut memiliki semangat yang mirip dengan tradisi hajat bumi, yakni menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus mempererat kebersamaan warga.
Namun, masyarakat Sukamulya memilih menggunakan istilah Syukuran Lembur untuk memberi penekanan sekaligus membedakannya dari tradisi Hajat Bumi Cariu di Sukadana.
Fauzi menegaskan Ngarumat Hulu Cai menjadi pengingat bahwa menjaga sumber air bukan semata urusan lingkungan. Di dalamnya juga tersimpan pengetahuan, ingatan para sesepuh, serta kebiasaan gotong royong yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
"Sebetulnya bukan hanya satu sumber air, ada beberapa hulu cai lainnya. Ini hanya simbolis. Mata air atau sumur lainnya juga dirawat," pungkasnya.