"Formasi ini, yang diinterpretasikan sebagai formasi diatreme vulkanoklastik bernama breksi Marsal, di daerah yang tidak memiliki magmatisme pasca-Grenvillian, sebenarnya lebih sesuai dengan batuan leleh miskin klastik di dasar kawah, yang cukup mirip dengan kasus Mistastin dan Janisjarvi," tulis tim tersebut dalam sebuah makalah yang dipresentasikan pada 86th Annual Meeting of the Meteoritical Society 2024.
Hal itu memang menarik, tetapi bukan merupakan konfirmasi pasti adanya peristiwa tumbukan. Saat ini hanya ada sekitar 200 struktur tumbukan yang telah dikonfirmasi di Bumi, jadi penemuan tersebut akan menjadi hal yang langka dan cukup mengesankan.
Gordon Osinski, seorang ahli geologi planet di Western University dan direktur basis data Impact Earth, skeptis bahwa itu adalah kawah tumbukan, tetapi tetap tertarik dengan potensi penemuan tersebut, dan memilih untuk bergabung dengan ekspedisi ke lokasi tersebut yang diselenggarakan oleh CEREGE.
Ternyata itu adalah keputusan yang sangat baik. Setelah tiba di danau menggunakan pesawat amfibi, tim tersebut segera menemukan 'kerucut pecah', yaitu fitur berbentuk kerucut pada batuan yang terbentuk akibat gelombang kejut yang terjadi setelah benturan.
"Ini adalah satu-satunya bukti tak terbantahkan tentang peristiwa tumbukan yang dapat Anda lihat di lapangan dengan mata telanjang," jelas Osinski dalam sebuah pernyataan yang dirilis NASA.