Eska menambahkan, di Gunung Ciremai sendiri selama musim kemarau, setidaknya sudah terjadi tiga kali kebakaran lahan dan hutan dengan luasan paling parah mencapai 15 hektare. Menurutnya, kebakaran tersebut dipicu oleh faktor aktivitas manusia.

"Nah, untuk tahun ini alhamdulillah ada mungkin 2 sampai 3 kali lah kejadian kebakaran itu. Dan luasannya juga kecil-kecil. Paling luas itu 15 hektare terjadi di Pasawahan. Indikasinya mungkin dari aktivitas manusia atau human error. Banyak faktor, karena memang kawasan kita berbatasan dengan tanah milik masyarakat jadi apinya merembet ke kawasan," tutur Eska.

Meski kebakaran jarang terjadi di jalur pendakian atau kawasan wisata, TNGC tetap memberikan imbauan kepada masyarakat sekitar maupun para wisatawan untuk selalu menaati aturan. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan atau lahan di musim kemarau.

"Kami dari Taman Nasional Gunung Ciremai senantiasa menghimbau kepada masyarakat, khususnya yang berada di sekitar kawasan, untuk senantiasa bekerja sama dengan Taman Nasional dalam rangka memaksimalkan pencegahan kebakaran hutan. Bagi para pengunjung wisata, untuk tetap menjaga keamanan di dalam kawasan. Khususnya yang berkemah ataupun yang mendaki, diminimalisir untuk tidak membuat perapian ataupun membuat hal lain yang bisa memantik terjadinya kebakaran," pungkas Eska.