Selain itu, ia membayar sekitar Rp 236 juta untuk jasa ahli feng shui. Ada pula pengeluaran sekitar Rp 416 juta untuk mengikuti program manajemen internasional Stanford-NUS.
Agarwal bahkan membayar sekitar Rp 694 juta kepada mantan perusahaan tempat Lee bekerja. Pembayaran tersebut dilakukan setelah Lee berhenti sebagai agen asuransi sebelum memenuhi target yang ditetapkan perusahaan.
Tak hanya itu, sekitar Rp 208 juta juga dikeluarkan Agarwal untuk membantu bisnis fesyen milik Lee.
Meski mengklaim seluruh pengeluaran itu sebagai pinjaman, hakim justru menemukan sejumlah bukti yang mengarah pada kesimpulan berbeda. Menurut hakim, bukti-bukti yang tersedia lebih menunjukkan bahwa Agarwal memberikan uang tersebut sebagai hadiah.
Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan adalah tidak ditemukannya bukti tertulis yang secara jelas menyatakan adanya kesepakatan pinjaman. Padahal, selama menjalin hubungan, keduanya tercatat cukup sering berkomunikasi melalui WhatsApp.
Dalam percakapan pada Mei 2021, misalnya, Agarwal mengatakan telah menyiapkan tiket kelas satu atau suite untuk Lee. Ia bahkan menawarkan penggunaan jet pribadi.
Kemudian pada Agustus 2022, Lee sempat menanyakan bagaimana cara mengembalikan uang yang selama ini telah dikeluarkan Agarwal. Namun, Agarwal justru menjawab bahwa Lee tidak perlu mengembalikannya karena dirinya bukan pemberi pinjaman uang.
Agarwal kemudian mencoba menjelaskan bahwa status uang tersebut berubah menjadi pinjaman setelah hubungan mereka berkembang menjadi hubungan romantis. Ia juga menyebut biaya feng shui sebagai pinjaman karena dirinya tidak mempercayai feng shui.
Sementara itu, dana yang digunakan untuk mengikuti program Stanford-NUS disebutnya sebagai 'grant'. Menurut Agarwal, istilah tersebut dalam konteks tertentu memiliki makna sebagai pinjaman. Namun, hakim menilai penjelasan tersebut tidak masuk akal.