Sementara itu Kurator Solo Safari, Muhammad Nur Hidayanto atau Tanto, kemudian mengungkap bagaimana Didi diduga berhasil melewati pagar elektrik tersebut.

Menurut Tanto, Didi tidak merusak kabel listrik. Satwa tersebut justru diduga menggunakan ranting sebagai alat untuk mengurangi atau menetralkan sengatan listrik melalui proses grounding.

"Dia tahu kalau kita tidak boleh bawa batu, makanya kadang batunya dikubur di dalam tanah. Nah, kalau ranting, dia tahu itu bisa menge-grounding-kan elektrik. Kemungkinan dia menemukan ranting, lalu ditempelkan untuk menutupi kawat sehingga dia bisa naik ke atas pagar," ujar Tanto.

Tanto juga membantah informasi yang menyebut Didi berhasil kabur karena meniru keeper atau petugas yang mematikan listrik. Ia menegaskan sistem kelistrikan pada pagar tersebut tetap aktif saat kejadian. Pengoperasian sistem dilakukan dari jarak jauh melalui sistem yang hanya dapat dikendalikan manusia.

"Elektrik itu permanen, tidak dilepas. Yang bisa mengoperasikan hanya manusia melalui sistem dari jauh. Saat kejadian posisinya 'on' semua, normal, tidak ada yang jebol. Ini murni karena dia pintar menyembunyikan sesuatu untuk mengakali pengamanan," tegasnya.

Meski mampu melewati sejumlah lapisan pengamanan, Didi sebenarnya masih menghadapi penghalang alami berupa danau yang berada di sisi barat area tersebut.