Solo Safari memang memanfaatkan danau sebagai salah satu pembatas alami karena orang utan pada dasarnya tidak dapat berenang.
"Sisi barat itu ada danau, baru tembok. Jarak tembok ke air sekitar 7 meter. Orang utan itu pada dasarnya tidak bisa berenang," kata Tanto.
Kejadian tersebut kini menjadi bahan evaluasi bagi pengelola Solo Safari. Tim animal keeper akan memperketat pengawasan terhadap berbagai benda yang berada di dalam enclosure, termasuk batu dan ranting.
Benda-benda tersebut perlu diperhatikan karena berpotensi dimanfaatkan satwa sebagai alat untuk mengakali sistem pengamanan.
"Ini jadi pembelajaran bagi kami. Primata itu setiap hari harus dievaluasi karena mereka terus berkembang. Kami pun belajar tiap hari dari behavior (tingkah laku) mereka," pungkas Tanto.
Diberitakan Sebelumnya, pada Selasa (18/8) orang utan dari Solo Safari lepas dan berkeliaran ke warung makan hingga merusak motor yang terparkir di warung tersebut. Selain merusak motor, orang utan juga sempat berjalan di Jalan KH Masykur.