"Pada 1976 sampai 1989, saya tidak bisa mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran saya secara terbuka. Maka dari itu saya menciptakan lagu yang syairnya bisa anda dengar dan rasakan, bahwa Indonesia kita sungguh kaya," ungkapnya.
Guruh mengaku baru sekarang dapa mewujudkan pagelaran karya seninya lagi karena terkendala sejumlah faktor, seperti resesi ekonomi di 1998, masa transisi dari orde baru ke reformasi, serta banyaknya bencana alam yang melanda negeri .
"Alasan saya yang lain adalah karena saya belum menemukan tempat yang memadai untuk pagelaran saya, hingga ada Teater Jakarta, yang baru beberapa bulan jadi," jelasnya.
Kini, politikus sekaligus seniman besar itu telah pergi. Namun, keyakinannya pada seni sebagai perjuangan politik akan terus terwariskan.